![]() |
| Ribuan pengungsi Suriah yang lari ke Eropa |
Pertama, kontrasnya sikap negara Islam & Barat. Praktis, hanya Turki yang bersikap welcome untuk menampung saudara seiman. Lainnya tidak terdengar, terkesan acuh atau bahkan menutup mata dan telinga.
Sedang negara-negara Eropa, malah lebih bersahabat, atas nama kemanusiaan. Bahkan sampai Australia dan negara Amerika latin sekalipun, punya empati yg tinggi. Meski secara teknis agak rumit menjadikannya sebagai tempat diaspora.
Kita perlu merenungi lagi makna ukhuwah, kita perlu menimbang lagi relasi Islam - Barat, kita perlu melakukan reorientasi terhadap wacana humaniora. Banyak hal sudah berubah. Ada yg perlu dikuatkan di internal dunia Islam, ada perspektif baru di dunia Barat. Kita jangan selalu berkutat pada pandangan lama.
Kedua, peluang Islamisasi dunia. Berawal dari simpati, berujung pada Islamisasi. Karena jalan dan pintu untuk mengenal dan masuk Islam itu banyak. Penaklukan wilayah bisa menjadi jalan Islamisasi sebagaimana ekspansi Islam, sebagaimana terlihat dalam paruh awal sejarah Islam.
Tapi kondisi terusir juga bisa menjadi jalan Islamisasi. Dakwah sampai Habasyah (Ethiopia) karena pengungsi. Komunitas Islam dibawah Abu Basyir tercipta karena mereka terusir dari Makkah, tapi belum bisa diterima Madinah. Bahkan, penguasa Mongol masuk Islam karena mereka menjajah negeri Islam. Wallohu khoirul makirin.
Tidak menutup kemungkinan, gelombang migrasi dari Timur Tengah menjadi jalan untuk proses Islamisasi dunia, menjadikan Eropa beralih dari negeri dengan mayosritas Kristen/Katolik menjadi negeri dengan mayoritas berpenduduk Islam.
Ketiga, introspeksi diri. Bagaimanapun, kita harus bermuhasabah tentang dosa dan maksiat yang sudah dilakukan. Bisa jadi ini adalah hukuman atas diamnya kelompok mayoritas Islam kepada kedzaliman minoritas dinegeri mereka sendiri.
Bisa jadi ini adalah azab yang ditimpakan Allah. Bisa jadi ini adalah sarana untuk mengganti kaum yang lemah, menjadi kaum yang kuat. Bisa jadi ini menjadi saringan untuk menjaring generasi terpilih. Dalam prosesnya, kadang memang ada darah yang harus mengalir dan air mata yang harus tertumpah.
Keempat, jalan panjang berdirinya Khilafah Islamiyah. Nubuwat Rasul tentang kembalinya khilafah ’ala minhajin nubuwah, pasti terwujud. Sekarang kita mulai sadar pentingnya sebuah negara Islam yang kuat, untuk mengayomi dan melindungi umat islam dinegara lain. Saat ini praktis baru Turki yang bisa memainkan peran itu dengan baik.
Sudah ada OKI, tapi tidak bisa banyak membantu. Andai ada dua atau tiga lagi negara Islam yang kuat, bentuklah aliansi strategis. Jika perlu dibentuk pakta militer. Mungkin bisa jadi jalan tol bagi kembalinya Khilafah Islamiyah. Karena jika harus mengikuti proses pembentukan negara benua seperti di Eropa, mulai dari mata uang sampai parlemen eropa, kayaknya terlalu rumit. Terlalu banyak PR yg harus diselesaikan di internal negara Islam.
Selalu ada harapan, bahwa dibalik kesulitan ada kemudahan. Dibalik kesedihan ada kegembiraan. Semoga gelombang pengungsian ini membawa banyak kebaikan dimasa mendatang. Meski tidak ada petunjuk khusus sebagaimana batu besar bersinar saat menggali Khandak, tapi tidak menghalangi kita untuk tetap optimis.
Eko Junianto




0 Komentar